Satu Rekening Untuk Berbagai Jenis Instrumen Investasi - Call Center: (021) 1500-688

Tuesday, 12 May 2015

Tiga perusahaan sekuritas yaitu PT Danareksa (Persero), PT Mandiri Sekuritas dan PT Bahana Securities ditunjuk sebagai underwriter atau pelaksana penjamin emisi proses right issue PT Aneka Tambang (Persero) Tbk.
Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan right issue Aneka Tambang akan digelar pada September 2015. “Lead-nya adalah Danareksa,” katanya di Kementerian BUMN, Kamis (7/5/2015).
Danareksa sendiri merupakan BUMN sedangkan Mandiri Sekuritas dan Bahana dimiliki oleh perusahaan milik negara juga yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero).
Proses right issue Aneka Tambang yang mengincar dana sekitar Rp5,39 triliun itu dilakukan menyusul diberikannya penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp3,5 triliun kepada perseroan. Right issue dilakukan agar saham pemerintah sebesar 65% tidak terdilusi atau berkurang.
Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Utama Aneka Tambang Tedy Badrujaman menyampaikan kepada anggota Komisi VI DPR bahwa harga saham dalam right issue sebesar Rp800 per lembar.
Namun, dalam perkembangannya, manajemen perseroan mengklarifikasi mengenai estimasi harga itu.
“Harga tersebut sesungguhnya hanya merupakan estimasi semata untuk memperkirakan jumlah lembar saham yang akan beredar dan tidak mencerminkan harga sesungguhnya,” tulis manajemen Aneka Tambang dalam pernyataan resmi. Sumber

Wednesday, 6 May 2015

 
Beberapa waktu belakangan ini kita mendengar adanya seorang public figure yang menjadi korban atas investasi yang dilakukannya. Kejadian seperti ini sebenarnya bukanlah hal baru di dunia investasi dalam negeri. 
 
Sebelumnya telah banyak kejadian serupa yang menimpa masyarakat, dimana masyarakat awam yang berinvestasi banyak yang menjadi korban penipuan berkedok investasi.


Ada 3 hal yang dapat dilakukan agar dapat terhindar dari investasi bodong.
1. Kenali dan pelajari produk investasi. Jangan mudah tergiur dengan return yang pasti dan iming-iming yang kurang rasional. Misal, Anda cukup diam di rumah dan dalam sebulan dana Anda PASTI mendapat keuntungan jutaan rupiah atau fixed return 5% perbulan. Iklan semacam itu perlu diwaspadai. Investasi bukan produk simpanan seperti tabungan atau deposito yang bisa menjanjikan secara pasti imbal hasil yang akan di terima. Selalu ada resiko di dalam investasi, semakin tinggi imbal hasil yang akan diterima biasanya akan diikuti oleh risiko yang semakin tinggi pula.

2. Pastikan perusahaan investasi memiliki izin dan terdaftar di lembaga yang berwenang. Perhatikan aspek legalitas pengelola investasi tersebut. Setiap pihak yang mengelola dana masyarakat pasti memiliki regulator yang bertugas mengawasi aspek legalitas manajemen tersebut. Mintalah prospektus dari produk investasi yang ditawarkan.

3. Cari tahu secara mendalam mungkin mengenai cara kerja produk investasi. Transparansi sangat penting, sebagai investor kita harus dan berhak tahu kemana dana kita ditempatkan. Pastikan pihak pengelola investasi bisa menjelaskan dengan baik pertanyaan-pertanyaan tersebut. Apabila produk investasi tersebut dianggap mencurigakan ada baiknya jika segera dilaporkan ke pihak berwajib.

Investasi memiliki manfaat yang cukup baik untuk mencapai tujuan keuangan yang baik di masa depan. Jadi, tetaplah berinvestasi dengan bijak dan cerdas http://dmia.danareksaonline.com/

Wednesday, 8 April 2015

Thursday, 19 March 2015

130619_rupiah-dolar-kurs.jpg (477×318)
JAKARTA. Angin surga berhembus dari Bank raksasa Morgan Stanley. Bank yang bermarkas di Amerika itu menganggap Indonesia keluar dari kategorifragile five atau lima negara yang mata uangnya rawan terkena dampak kebijakan moneter Bank Sentral Amerika The Fed.
Pada Agustus 2013 ketika The Fed mengumumkan akan menurunkan porsi kucuran stimulusnya atau quantitative easing (QE) sebesar US$ 85 miliar, Morgan Stanley mengidentifikasi lima negara berkembang dengan mata uang yang paling rentan terdampak yaitu Brazil, India, Indonesia, Turki, dan Afrika Selatan.
Saat ini, ketika The Fed berencana untuk menaikkan suku bunganya sejak 2006, Indonesia dan India dianggap sudah terhindar dari risiko. Ekonom Morgan Stanley mengaku Indonesia dan India sudah melakukan reformasi ekonomi yang cukup dengan meninggalkan model ekonominya yang lama.
Dalam kasus Indonesia, Morgan Stanley melihat Indonesia telah mengambil langkah positif di mana Presiden Jokowi dalam lima bulan pertamanya menjabat telah menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM) premium dan menekan defisit anggaran ke 1,9% dari PDB.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyambut positif Indonesia yang dianggap sudah bisa keluar dari fragile five. Ia mengakui, ketika ada gejolak pada rupiah maka pemerintah harus melakukan reformasi struktural. Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan untuk mengurangicurrent account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan.
Pemerintah telah membuat anggaran sehat dengan menghapus subsidi minyak premium. Hanya saja, dalam hal ini pemerintah masih perlu menurunkan CAD lebih jauh lagi. "Kebijakan tidak boleh berhenti (untuk kurangi CAD). Akan sambung terus," ujar Bambang, Rabu (18/3).
Kebijakan mengurangi CAD ini yang dalam waktu dekat akan dikeluarkan pemerintah dalam bentuk paket kebijakan baik untuk neraca dagang ataupun jasa. CAD jelas menjadi konsern pemerintah karena salah satu penyebab rupiah tertekan adalah defisit pada neraca transaksi berjalan yang terus terjadi sejak triwulan terakhir 2011.
Pada 2014, CAD Indonesia sebesar 2,95% dari PDB. Untuk tahun ini karena impor belanja infrastruktur akan melonjak maka defisit masih akan berada pada level sekitar 3% dari PDB. Kontan

Monday, 9 March 2015

Prediksi periode minor (1-5 hari): Menguat
Prediksi periode intraday: Sideways melemah
Level support-resistance: 5,442.9 - 5,550.7
Saham yang layak dicermati: INDF, MYOR, SMCB, KRAS, BBNI, ANTM, TINS, ISAT, CTRA
\

IHSG naik tajam 1,17 persen kelevel 5,514.79, kompak bersama dengan bursa regional Asia lainnya. Sentimen positif datang dari ekspektasi kondisi pasar tenaga kerja AS yang positif. Dimulainya implementasi kebijakan moneter agresif ECB juga turut mendongkrak pasar.

Indeks saham Dow Jones tersungkur 1,54 persen ke level 17.856,78, pasca rilis data ketenagakerjaan AS. Serapan tenaga kerja diluar sektor pertanian (nonfarm jobs) dibulan Februari naik mencapai 295 ribu posisi, diatas level revisian Januari sebanyak 239 ribu posisi. Sektor yang mencatat kenaikan serapan tenaga kerja antara lain jasa makanan dan minuman, jasa bisnis dan profesional, konstruksi, kesehatan, transportasi dan pergudangan. Kenaikan ini membawa tingkat pengangguran turun kelevel 5,5 persen. Rerata pendapatan perjam (average hourly earnings) meningkat sebesar 2 persen YoY. Pelaku pasar kembali berspekulasi akan kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Data GDP revisian Jepang Q4 2014 menunjukkan ekspansi ekonomi Jepang yang lebih lambat dari rilis sebelumnya. GDP Q4 2014 direvisi menjadi 1,5 persen (annualized) dari data sebelumnya 2,2 persen. Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, pertumbuhan Jepang melambat dari 0,6 persen ke 0,4 persen. Meski direvisi turun, ekonomi Jepang tetap menunjukkan perbaikan dan keluar dari resesi.

Pagi ini mayoritas bursa Asia dibuka melemah. Harga minyak Brent (WTI) turun kelevel US$ 59,37 (US$ 49,39) perbarel, dan emas naik kelevel US$ 1.168,90/troy ounce.

Friday, 6 March 2015

Danareksa government bonds yield index advanced 8.94bps from 7.235% to 7.324%

As the U.S. jobless rate creeps ever closer to the Federal Reserve’s definition of full employment, some Fed officials are asking a question: How low can you go? Their answer: less than the 5.2 percent to 5.5 percent the Fed currently defines as the lowest that can be achieved without heating up inflation. Some Chicago Fed economists say this sweet spot, often called full employment or the natural rate of unemployment, may be as low as 5 percent. Futures based on the federal funds rate imply a rate of 0.51 percent in December 2015. Fed officials expect the benchmark funds rate to trade in a range between 1 percent and 1.25 percent by the end of 2015, according to the median estimate of their quarterly forecasts in December. (Bloomberg)

Government bonds volume was IDR13.00 trillion, and it was dominated by medium term (5-15 years). It was lower than the previous day transaction of IDR16.32 trillion but it was higher than its YTD average of IDR10.56 trillion.

Corporate bonds volume was IDR541.63 billion, mostly short term (< 5 years). It was lower than the previous day transaction of IDR918.98 billion and it was lower than its YTD average of IDR551.70 billion.

IDR strengthened 0.01% against USD from 12,991 to 12,990 whilst JCI increased 0.05% from 5,448 to 5,451.

FR0070 yield climbed up by 8.60bps from 7.166% to 7.252% while RI240115 yield was down by -1.4bps from 3.731% to 3.717%.

Brent climbed up from 60.11 to 60.12 USD per barrel meanwhile WTI Cushing Crude Oil Spot price was down  from 51.53 to 50.76 USD per barrel.

Wednesday, 18 February 2015

BBNI sekilas pandang:
- BBNI menempati rangking #4 berdasar market cap atau sebesar Rp 127T
- Untuk melihat lebih dalam, yuk kita lihat profil laporan keuangannya:

Growth Profitability and Financial Ratios for Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Class B


  • Kinerjanya selalu positif, sempat melambat 2007, hal ini dipengaruhi kontraksi ekonomi global terutama US dan Eropa 
  • Angka operating margin % cukup besar (double digit), namun tidak lebih tinggi dibanding BBRI 
  • Pertumbuhan eps juga menarik, angkanya selalu double digit- ini berakibat investor memberi apresiasi yang tinggi thd BBNI  
  • Jika kita kaitkan kenaikan harga sahamnya dengan EPS report kuartal 1, sbb:

Berikut analogi valuasi sederhananya: 

  • 2013: eps nya naik 28% menjadi 486 berakibat harga sahamnya naik 48%
  • 2014: eps nya naik 11.7% menjadi 543 berakibat harga sahamnya naik 43%
  • Jika prediksi eps 2015 sebesar 626 atau naik 15%, kira-kira harga sahamnya naik berapa? 
  • Jika kita sepakat harga 6.600 level terendahnya dan asumsi kenaikan serupa dgn tahun sebelumnya, potensi kenaikan BBNI bisa jadi ke level 9.400 (woow...) 
  • Prediksi ini tentu saja sangat jauh dari kepastian, waktu yang akan membuktikan...

Demikian sekilas pandang BBNI, semoga dapat bermanfaat
Salam investasi!